Senin, 26 Maret 2012

TERJADINYA BATU MELOKAK SABET DI GUNUNG RINJANI


Ada seorang bapak salah satu mangku adat yang miskin hidup di pedesaan. Suatu hari beliau berdo’a kepada allah SWT semoga di beri rizki yang secukupnya buat memenuhi kehidupan sehari-hari, dan akhirnya do’a-Nya di kabulkan seperti yang di minta. Setelah dapat dan sudah puas dengan keadaannya sekarang, beliau berdo’a lagi  karena ingin rumah bagus, do’a-Nya pun terkabulkan. Beberapa hari kemudian beliau sudah puas dengan rumahnya yang bagus beliau berdo’a lagi ingin hidup menjadi orang kaya raya. Seperti biasanya do’a-Nya pun terkabul. Selama beberapa minggu menikmati kehidupannya yang serba cukup hidup mewah, semuannya beliau punya, kambing, sapi, kerbau, sawah dll. Meskipun beliau sudah seperti itu dia belum juga puas, kemudian beliau berdo’a lagi ingin hidup selamanya di dunia beliau tidak ingin mati, karena tidak mau meninggalkan harta kekayaannya yang begitu melimapah. Saat berdoa beliau minta supaya di beri petunjuk bagaimana caranya agar tidak meninggal, kemudian beliau mendapat petunjuk yang namanya meninggal semua mahluk hidup pasti meninggal dunia, jangankan manusia para Nabi pun meninggal kecuali Allah SWT. Setelah di peringati seperti itu beliau tetap menolak, pokoknya beliau harus tetap hidup di dunia untuk selamanya. Dan akhirnya dia dapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa, bahwa petunjuk tersebut mengatakan dia di suruh naik gunung Rinjani nanti di sana beliau akan di kasi tau bagaimana caranya agar tidak meninggal dunia supaya tetap dapat melihat kekayannya sebelum hari kiamat.
Keesokan harinya beliau berangkat sendiri naik gunung Rinjani. Beberapa jam kemudian akhirnya dia sudah sampai di puncak gunung Rinjani. Belum lama kemudian beliau mendapat petunjuk beliau di suruh diam sebentar. Belum lama kemudian ada seekor kudadi dekatnya, kemudian beliau di suruh naik kuda tersebut dan akhirnya beliau pun naik kuda tersebut. Tiba tiba tubuhnya mulai membeku dan berubah menjadi batu yang menempel di puncak rinjani. Batu yang menempel tersebut bisa di lihat dari kampungnya dan seluruh daerahnya yang di namakan batu Melokak Sabet. Di namakan melokak sabet karena beliau adalah salah satu mangku adat di desanya. Akhirnya Melokak Sabet dapat di lihat oleh kita semua ketika ada di daerah gunung Rinjani dan daerah manapun selama masih bisa melihat puncak Rinjani dan masih tetap di sebut-sebut namannya dengan sebutan Batu Melokak Sabet. Dan Melokak Sabet pun tetap bisa melihat kekayaannya sampai sekarang karena tempat itu sangat tinggi dan bisa melihat seluruh alam seperti yang dia minta.
Begitulah kisah terjadinya Batu Melokak sabet yang menempel di puncak Rinjani. Tetapi jarang ada yang memperhatikan batu tersebut bahkan tidak tau karena mungkin tidak di perhatikan saat ada di sekitar wilayah tersebut. Tapi sebenarnya batu itu tetap ada. 

Minggu, 25 Maret 2012

PERNIKAHAN TIDAK DI SETUJUI


Hari pernikahan Alan dan Nana sudah di tentukan namun sayang pernikahan mereka tidak di setujui. Tapi mereka tetap melaksanakan pernikahan itu, saat akad baru di mulai tiba-tiba orangtua alan dan keluarganya datang mengusir nana di suruh pergi dari temapt tersebut tapi alan dan nana tidak mau berpisah tapi mereka di paksa dan di pisah. Akhirnya nana pulang kerumah, malam harinya saat semuanya udch tidur nana kabur dari rumah tanpa tujuan, esok harinya nana datang ke rumah alan,” Assalamualikum, permisi pak alannya ada?, ehhhhh kamu lagi, ngapain kamu kesini lagi pergi sana, orang tua alan mengusir nana. Belum lama kemudia alan keluar dan menahan nana pergi. Tiba-tiba datang pamannya alan, alan apa nana ada di sini?, ya paman, jawab alan lemah lembut. Kemudian orangtua alan menyahut, ya anak itu masih di sini padahal udah kita usir beberapa kali.”kalau kamu tidak mau mengurus pernikahan mereka biar aku yang mengatur pernikahan mereka, anggap saja ini rizki dalam keluarga, biar aku saja mengeluarkan biaya pernikahan mereka, jawab paman alan kepada saudaranya.
Akhirnya beberapa hari kemudian hari pernikahan alan dan nana sudah di tentukan dan mereka pun penikah. Meskipun sudah menikah orangtua alan masih tidak setuju atas pernikahan mereka. Alan dan isterinya di usir dari rumah dan merekapun pergi dari rumah. Alan dan isterinya pergi tanpa tujuan, mereka hidup di jalanan.
Beberapa minggu hidup di jalanan mereka tidak pernah makan nasi, tempat tinggal pun tidak ada. Secara tidak sengaja mereka bertemu sama pamannya,” loh kalian mgapain di sini?, kita tidak ngapa-ngapain paman, kita di usir sama ibu dan keluarga di sana, awalnya kkita tidak mau pergi tapi mereka semua di usir secara paksa sampai kami di dorong-dorong keluar dari halaman rumah, jawab alan dengan raut muka sedih. Saya tidak menyangka mereka begitu bencinya sama kalian, kalau begitu kalian ikut paman pulang tinggal bersama paman. Jawab papan kepada keponakannya.
Akhirnya alan dan nana dapat tempat tinggal untuk sementara walau Cuma numpang tapi paman alan ikhlas mereka tinggal di rumahnya. Selama tinggal di rumah paman alandan isterinya membantu pamannya mengerjakan apa saja yang ada.
Suatu hari, orang tua alan tiba-tiba datang kerumah saudaranya, kedatangan mereka di sambut dengan senyuman yang manis oleh semua oranng yang ada di rumah itu termasuk alan dan isterinya. Orangtua alan kaget dan tidak tau mau bilang apa, Cuma bisa bilang, “koq kalian bisa di sini?, ia kenapa kamu kaget ya, saya yang membawa mereka ke sini saya ketemu mereka di jalan, kamu bener-bener tidak tau untung allah sudah memberi kamu menantu sebaik nana, tapi kamu menyia-nyiakan mereka sayapun tidak sudi punya saudara seperti kamu, sekarang kamu pergi dari sini!. Jawab pamannya alan kepada saudarannya alias orangtua alan.
Alan dan isterinya hidup bahagia bersama pamannnya dan keluarga yang lainnya. Nana pun di izinkan sekalai-kali menjenguk keluarga nana. Akhirnya nana dan alan kini sudah bahagia mekipun merkeka belum punya rumah tapi ada paman yang mau berbaik hati sama mereka.

Selasa, 20 Maret 2012

PERJUANAGN DAN DO'A


Saat  SMA, Shinta rela melakukan apa saja untuk medapatkan uang selama itu masih halal. Shinta tidak pernah menyerah  dengan kondidi Ekonominya serba kekurangan namun dia terus berjuang dan semangat dalam menjalani hidupnya dengan susah payah untuk mencari makan bersama keluarganya. Keluarga shinta sudah tua dan orang tuanya juga tidak bisa berbuat banyak untuk shinta. Justru itu sinta ingin membuktikan kalau dia juga bisa mencai nafkah buat makan dan juga keluarganya.
Selain buat makan dia juga harus pintar-pintar menyisihkan uang buat biaya sekolahnya, sering kali guru dan teman-temannya memarahi dia karena suka telat bayar buku seperti LKS atau buat tugas kelompok yang lainnya, tapi meskipun begitu shinta tidak pernah menyerah untuk terus bersemangat melanjutkan sekolahnya sampai lulus ujian nanti. Guru dan temannya tidak tau keadaan shinta yang sebenarnya,karena  dia tidak pernah cerita kepada siapapun bagaimana sebenarnya kehidupan bersama keluarga.
Suatu hari ada seorang teman ngelapor ke wali kelas,”Pak, itu si Shinta kenapa sih, koq bayar buku telat terus itupun kita capek minta beberapa kali, berapa minggu baru dapat duit sama dia”, dengan wajah yang sebel,” ya sudah kalu begitu suruh dia ke ruangan saya sekarang”, ibu guru menyambut muridnya dengan wajah yang sebel juga. Setelah itu shinta di panggil ke ruangan wali kelasnya. “ Shinta ibu dapat informasi kamu suka telat membayar kebutuhan kamu di sekolah, kenapa?, ya buk soalnya saya tidak ada uang saya harus nyari ang dulu baru saya ngeluarin, jawab shinta sambil menundukkan kepala”, shinta pun menceritakan tentang kehidupan yang sebenarnya dia alami. Setelah itu wali kelasnya memaklumi keadaan shinta.
Beberapa hari kemudian, guru-guru memberi kejutan sama shinta. Wali kelasnya masuk kelas dan mengumumkan bahwa shinta mulai tahun ini dapat beasiswa, karena shinta juga pantas mendapatkan uang itu, meskipun shinta miskin tapi dia pintar. Shinta tidak menyangka dia dapat Beasiswa dan akhirnya orangtua bisa bangga melihat anaknya mendapatkan uang dari sekolah. Namun di balik kesenagannya ada juga kesedihan yang di rasakan oleh shinta.
Suatu hari saat pelajaran kosong ( tidak ada guru mata pelajaran yang masuk), ada beberapa dari teman kelasnya yang iri sama dia, karena temannya itu tidak dapat uang beasiswa dan temannya mengatakan” eh shinta koq bisa sih kamu dapat  uang beasiswa adahal kan kamu orang kaya, kita yang miskin saja tidak dapat”, dengan raut wajah yang sebel dan tidak suka sama shinta mereka membolak balikkan fakta. “ ya saya kan tidak tau, bukan saya yang minta koq, aku aja idak tau kalo dapet uang beasiswa dan masalah miskin atau kaya itu allah yang menentukan, saya tidak kaya harta tapi saya kaa keluarga, jawab shinta lembut. Temanya tidak peduli apa yang di katakan shinta dia selalu benci sama shinta.
Dua tahun kemudian shinta sudah kelas tiga SMA, sejak naik kelas tiga, dia berusaha lebih rajin lagi belajar dari sebelumnya agar dia bisa menguasai pelajaran hingga sampai hari ujian nanti. Hari demi hari shinta sidah banyak hari yang terlewati, namun dia juga tetap berusaha mencari uang saat dia libur membantu orangtuanya mencari rizki buat makan.
Beberapa minggu kemudia, tidak terasa ujian sudah Nasional sudah tiba shinta pun berusaha menjadi yang terbaik buat dirinya dan keluarga. Dia harus bisa lulus dan kosentrasi dalam belajar supaya bisa menjawab soal. Shinta juga anak yang sholeha, baik dan ramah, selama di sekolah dia tidak pernah lalai menjalankan ibadah sebagaimana mestinya.
Ujianpun sudah di laksanakn kemudian beberapa minggu kemudian hari pengumuman sudah tiba. doa dan harapan shinta dan orangtuanya semoga bisa lulus dan shinta juga yakin tuhan maha adil dan maha segalanya dia pasti lulus. Doa dan harapannya telah terkabilkan shinta bisa lulus. Dia bangga sekali apa yang dia lakukan selama ini jerih payah mencari rizki pergi buruh harian namun semua itu hasilnya tidak sia-sia. Shinta pun tidak lupa berterima kasih kepada tuhan dan guru-gurunya karena telah mendidik dengan baik
Kini shinta dan keluarganya sangat merasa seperti baru keluar dari ruangan sempit karena sekolah nya sudah selsai dan hasilnya pun sangat memuaskan. Banyak cobaan yang di hadapinya selama ini dia tetap sabar dan terus berdoa, dan akhirnya tuhan mengabulkan dan membalas perbuatannya selama ini.

</